Maafkan, karena saya menulis.

Mungkin kamu benci tulisan saya. Mungkin kata-kata ini membangkitkan rasa muak yang ada di kamu, yang akan selalu ada, tidak perduli bagaimanapun keadaannya, tidak perduli bagaimana saya merasa bahwa ini semua sungguh tidak adil. Kamu menelan tulisan saya yang seperti racun, namun saya menelan racun yang sesungguhnya. Racun yang kamu paksakan masuk ke jantung saya, yang mengalir deras ke seluruh tubuh saya. Tidak perlu saya ungkapkan betapa sakitnya, saya yakin kamu tidak akan pernah sekalipun mengerti dan perduli tentang kerusakan apa yang kamu ciptakan di diri saya.

Kerusakan, iya, kamu merusak. Saya rusak. Yang paling saya rasakan adalah kamu merusak kepercayaan diri saya sendiri. Kamu membuat saya merasakan menjadi orang yang tidak pantas diberi cinta. Saya rusak. Mereka membenahi saya, namun kerusakan yang kamu berikan seperti kanker. Iya. DIbenahi di satu bagian, lalu muncul di bagian lain. Saya benci menjadi rusak seperti ini. Namun tidak sebesar rasa benci saya ke kamu, yang akan tetap menyala seperti kobar api karna mengikuti sifat kerusakan yang kamu berikan: permanen.

Maafkan, karena saya menulis.

Hanya kata-kata yang saya punya. Saya tidak bisa merusak kamu dengan perbuatan seperti apa yang selalu menjadi sebuah keahlian dari kamu; yang dulu saya kira sudah tidak akan keluar lagi. Saya tidak sampai hati untuk merusak kamu, tidak akan pernah sampai hati. Saya ingin, ingin sekali melihat kamu terjatuh dan terinjak, menggeletak lalu rusak. Namun saya sadar, hal itu juga membunuh saya. Sungguh saya benci kebodohan saya, mereka juga benci kebodohan saya. Saya pun muak dengan kebodohan saya, yang selalu menempatkan saya di posisi rusak seperti sekarang. Namun rasa muak itu tidak cukup keras bagi saya untuk menjadi pintar, tidak seperti rasa muak kamu yang lebih dari cukup untuk pergi meninggalkan apa yang kamu mulai.

Maafkan, karena saya menulis.

Kamu selalu bisa menjadi objek favorit saya, karena kamu memunculkan segala hal dari diri saya; yang terbaik dan terburuk. Tahukah? Pedulikah? Tidak, saya rasa. Saya hanya berharap suatu saat hidup menampar kamu dan rasa sakitnya setara dengan rasa sakit yang saya rasakan sekarang. Seperti menaruh tumbuhan menjalar di dinding yang penuh dengan pecahan kaca, jika saya mau menuju matahari maka saya harus melewati pecahan kaca tersebut.

Saya rusak.

Perasaan saya berserakan, sebagian tertinggal di kota kita, dan kota kamu.

Dan mungkin terbawa kamu.

Maafkan, karena saya menulis, saya tidak tahu apa lagi yang harus saya lakukan.