Surat untuk Fajar

Gelapmu sudah kunanti dari saat senja menyapa. eh, tunggu, itu dulu, gelapmu selalu kunanti sehingga aku akan cepat bertemu lagi dengan sang senja. sehingga waktu akan berputar lebih cepat. sehingga kami akan bertemu lebih cepat. sehingga beban rindu di hati tidak lagi mengikat.

Sekarang aku takut ketika kau datang, bersama udara dingin dan tenggelamnya matahari. semuanya akan selalu terasa lebih berat disaat penghujung hari. memori tentang semuanya akan selalu terulang. bagaimana senyum itu terukir, lalu akan terus berjalan ke bagaimana air mata itu jatuh.

Bagaimana semuanya menghilang dari genggaman, menghilang dari pandangan, lalu menghilang dari jangkauan.

Fajar, kau selalu memberikan sebuah arti. dulu aku menunggumu karna kau selalu datang bersama sebuah sapaan manis. lalu kau selalu datang dengan sebuah kata cinta. lalu kau selalu datang dengan ungkapan rindu. lalu kau selalu datang dengan deru motor di depan rumah. dan kau akan berakhir dengan deru yang sama dikala Senja. Meninggalkanku bermimpi indah untuk bertemu lagi dengan Fajar yang baru.

Sekarang kau datang dengan kecemasan, akankah semua berjalan baik-baik saja? ataukah tidak? akankah semua akan berlanjut, ataukah berhenti sampai disini?

Dan ternyata semua itu terhenti.

Tuhan selalu punya cara untuk menunjukkan bahwa hanya Ia yang Maha Menentukan, tak perduli seberapa besar manusia berusaha. Mubram dan Muallaq, dua hal yang memaksakan kepercayaanku untuk patuh.

Kita bisa berencana, namun pada akhirnya, semua keputusan bukan berada di tangan kita. Tuhan adalah sutradara, dan kita adalah astrada, dimana bisa saja kita yang nampak sibuk mondar mandir sana sini, namun sesungguhnya kita hanya mengikuti apa yang Sutradara perintahkan.

Maka, jangan bermimpi tentang kau bisa mengontrol hidupmu sendiri. Fajar akan selalu datang, namun akan selalu membawa aroma yang berbeda.

This post was originally written in October 2011, my biggest heartbreak.

Aku harap itu cukup

Aku berusaha mencari simbolisasi tentang keberadaanku disisimu.
 
Pada awalnya, aku ingin menjadi udara.
Udara yang selalu kamu hirup setiap saat, selalu membuatmu hidup, selalu ada untukmu walau kadang kamu lupakan. Meresap kedalam setiap keping darahmu, memberikan nyawa untukmu.
Namun aku tidak ingin jika aku tak ada, kamu mati. Aku ingin kamu tetap hidup bahkan setelah aku pergi, kepergian dalam bentuk apapun.
Namun tekankan, aku tidak akan pernah berniat untuk pergi.
Maka udara kucoret dari daftarku.
 
Aku ingin menjadi bola sepak.
Ya, bola bundar itu. Aku suka saat melihat kamu bermain bola, entah secara langsung maupun secara virtual. Aku suka melihat kamu melakukan hal kegemaranmu, aku suka melihat kamu bersemangat, aku suka melihat kamu bahagia. Aku ingin menjadi hal yang bisa membuat kamu bahagia.
Namun aku tidak ingin dioper oper, aku tidak ingin dibagi bagi, aku tidak ingin diperebutkan. Aku ingin ada buat kamu, namun sepertinya main bola sendirian itu kurang asik.
Aku suka menghabiskan waktu berdua denganmu, tapi aku juga suka saat kamu senang saat berkumpul dengan teman-temanmu.
Tidak boleh egois, maka bola sepak pun kulewati.
 
Kubayangkan menjadi musik. Aku ingin menjadi musik.
Ya, aku tahu kamu suka musik, aku juga. Kita berdua suka musik, dan musik selalu hadir di setiap obrolan. Entah itulipsync, sindiran, ledekan, atau ungkapan perasaan. Musik selalu dapat menemani di dalam setiap keadaan, hanya butuh playlist yang tepat.
Namun, musik itu terlalu luas. Sedangkan aku tidak bisa memilih spesifikasi musik untukmu, karna ada waktu dan situasi yang berbeda untuk tiap lagu. Lagi, musik dapat menjadi hal yang paling kubenci, karna dapat menyeret memori yang seharusnya sudah terkubur. Musik terlalu labil dan luas, tidak.
Karena, aku ingin menjadi sesuatu yang stabil untukmu.
 
Terfikir akan hal yang lain, namun selalu saja ada kekurangannya. Aku ingin menjadi sempurna buat kamu, namun kesempurnaan tidak pernah bisa disimbolkan, selain Tuhan tentunya. Sepertinya tidak ada hal yang dapat menggambarkan keinginan ini.
 
Lalu kuputuskan, aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku, yang akan berusaha untuk menjadi apa yang kamu ingin, kamu butuh, kamu harap, namun tetap dalam konteks ‘aku’. Maaf jika aku tidak bisa menjadi kesempurnaan untuk kamu, maaf jika terkadang kamu kesal dan semacam ingin memasukkanku ke peti lalu dikirim ke Antartika, maaf jika aku gagal memenuhi ekspektasimu tentang pasangan ideal.
 
Aku tidak bisa menjanjikan apapun selain satu hal; Aku akan berusaha hingga aku kehilangan rasa kesanggupan.
 
Aku harap itu cukup.
This post was originally posted on my private blog at November 2010, gosh look how cheesy I was!